sanqyurian
1,000+ Views

Bakcang dan filosofi di dalamnya

Saya baru tau makanan favorit saya ini mempunyai nilai filosofi tinggi. Makanan yang aslinya dari negeri bambu ini melambangkan penghormatan karakter terpercaya serta ungkapan utuhnya percaya dan setia. Keempat kerucutnya juga melambangkan empat kata Qu-Yuan; Setia - Percaya. Untuk sejarah lebih lanjut bisa dilihat di: http://williamwiyanto.site40.net/sejarah.html
7 Comments
Suggested
Recent
sama omaku jugaa.. >.< huhuhuu jadi pengen makan bakcang isi telur asin bikinan si omaaa
ooohh, gitu.Baru tau dia jago bikin bakcang :D
dia paling jago bikin bakcang soalnyaaa
omooooooo makanan favoritkuuuu~ thanks for posting!!! jadi kangen sama nenekkkuuuwww
@duriandurian jadi ketan durian dong :P
Cards you may also be interested in
Kuliner 202 : Pontianak - Yam Mie / Bakmi Kepiting Oukie
Kalau ke Pontianak , tentu kulinernya tidak jauh dengan kuliner oriental alias Chinese food. Biasanya tidak jauh - jauh dengan mi dan kawan - kawan. Nah sebelum makan , sebaiknya tahu dulu varian mi. Kalau mi itu bulat kuning, minimal keliatan satu garis. Kalau putih, agak pipih, itu namanya kwetiau. Kalau lebih lebar dikit dan digulung, itu namanya kwe kia nah lebih lebar lagi itu kwe cap Nah kalau bihun itu bulat putih kalau soun itu lebih tipis. Tapi di pontianak itu yang lebih favorit adalah mi kuning serta kwetiaw dan kawan2nya (kwe bersaudara hehe). Holy trinity mi dan kwetiawnya Pontianak kita mulai dengan yammie dulu yah :) Yam mie, begitu dia dikenal oleh masyarakat Tiong hoa khususnya orang Tio Chiu di Pontianak. Yam mie merupakan makanan khas yang Pontianak, terdiri dari mie kuning yang dimasak kemudian di beri berbagai macam lauk seperti irisan ikan goreng tepung, udang rebus, irisan daging ikan putih,dan tentu saja supit kepiting. Kalau mau varian tidak halalnya, ada tambahan irisan babi daging kecap. Kenapa namanya yam mie , apa karena kata orang inggris yummy ? Bukan. Yam mie itu artinya mie yang dihidangkan kering, tanpa kuah, Tidak direbus maupun digoreng. Yam mie atau bakmi kepiting terenak itu ada di deket jalan Nusa Indah yaitu Yam mie "Oukie". Yammie oukie ini sudah turun dari generasi ke generasi. Cita rasa suatu masakan keautentisannya memang harus diturunkan turun temurun. Kadang kalau yang tukang gorengnya ganti, rasa bisa jadi berbeda. Karena kwetiaw atau mi itu teknik memasaknya juga sangatlah penting. Dan tentu saja bahan dan bumbu - bumbunya. Harga : 18 ribu Lokasi : Cabang Nusa Indah, Cabang Gajahmada dan Cabang Tanjungpura
Sejarah PemPek Palembang
Pempek Palembang sesuai dengan namanya merupakan makanan khas Sumatera Selatan (palembang) yang terbuat dari bahan dasar ikan dan sagu. Penyajian pempek palembang selalu ditemani dengan semangkuk kuah pedas dan menggigit berwarna coklat kehitaman yang disebut dengan cuko / cuka. Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan "apek", yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina. Cerita Rakyat Tentang Pempek Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (Rumah rakit tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka (bahan makan dari singkong), sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek-apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek. Fakta Sejarah Pembanding Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18. Selain itu Sultan Mahmud Badaruddin baru lahir tahun 1767. Juga singkong sebagai bahan baku sagu baru dikenal pada jaman penjajahan Portugis dan baru dibudidayakan secara komersial tahun 1810. Jika dilihat dari fakta lain yang bertentangan dengan cerita rakyat diatas, mungkin Sejarah Pempek Makanan Khas Palembang memang belum sepenuhnya benar. Walaupun begitu sangat mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti baso ikan, kekian ataupun ngohyang. Jenis Bahan Pembuatan Pempek Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih. Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan laut seperti Tenggiri, Kakap Merah, parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Juga sudah ada yang menggunakan ikan dencis Kreasi Makanan dari Adonan Pempek Dari satu adonan pempek, ada banyak makanan yang bisa dihasilkan, bergantung baik pada komposisi maupun proses pengolahan akhir dan pola penyajian. Di antaranya adalah Laksan, Tekwan, Model, dan Celimpungan. Laksan dan celimpungan disajikan dalam kuah yang mengandung santan; sedangkan model dan tekwan disajikan dalam kuah yang mengandung kuping gajah, kepala udang, dan bumbu lainnya. Varian baru juga sudah mulai dibuat orang. Misalnya saja kreasi yang membuat pempek keju,pempek baso sapi, pempek sosis serta pempek lenggang keju yang dipanggang di wajan anti lengket (teplon). sumber: http://kumpulansejarah-aris.blogspot.kr/2012/11/sejarah-asal-usul-pempek-palembang.html
Kuliner 202 : Semarang - Mie Titee Grajen
Satu lagi kuliner nusantara yang dipengaruhi budaya Cina, Mie Titee. Mungkin kata Mie Titee masih asing bagi di telinga Anda, namun bagi Anda yang sering mengunjungi kota Semarang dan banyak mengenal kuliner-kuliner kota ini, Anda pasti pernah mendengarnya. Titee adalah kaki babi, kata tersebut berasal dari bahasa Cina, dan mie sendiri memang kuliner yang berasal dari negeri Cina. Mie Titee berarti mie yang disajikan bersama daging babi. Jika dilihat sepintas Mie Titee tampak seperti Mie Ayam pada umumnya. Yang membedakan adalah campuran sayur yang digunakan. Jika Mie ayam menggunakan daun caisim atau sawi hijau, mie titee menggunakan daun kangkung atau bayam dan tauge. Mie titee juga mirip dengan mie kangkung, mie khas Betawi, hanya saja kuah bakmi kangkung kental dan berwarna kecoklatan karena adanya bumbu dari ebi atau udang kering, sedangkan kuah mie titee bening karena menggunakan kuah kaldu dan udang yang digunakan merupakan udang segar yang telah direbus yang disajikan ditas mie. Kuah kaldu mie titee merupakan kaldu babi, dipadukan dengan bawang putih yang dominan terasa sangat nikmat di lidah. Bakmi yang digunakan merupakan bakmi telur yang lembut. Daging dan kulit babi yang digunakan sebagai topping dimasak dengan bumbu kecap terlebih dahulu sehingga terasa manis. Selain daging dan kulit babi, udang juga digunakan sebagai toppingnya, beserta taburan bawang putih tumbuk dan bawang goreng. Untuk menambah kenikmatan dalam menikmati mie titee, disediakan sambal cabai rawit dan acar timun. Jika Anda ingin menikmati semangkuk mie titee, datang saja ke Jl. Gajahmada No.63A. Lokasi warung makan ini berada di sebelah warung Tahu Pong Gajahmada yang sangat terkenal. Warung makan ini tidak begitu luas namun kebersihannya sangat dijaga, dan walaupun mengunakan daging babi sebagai olahan kulinernya, namun tidak tercium aroma tidak sedap. Warung makan ini hanya memiliki dua meja panjang sehingga saat Anda makan, Anda akan duduk bersebelahan langsung dengan pengunjung lainnya. Warung Makan Mie Titee Grajen Gajahmada buka mulai pukul 11.30 hingga pukul 21.30 WIB setiap harinya. How to get there: Angkot : dari Simpang Lima, naik angkot yang melewati jalan Gajah Mada (bisa tanya sopir). Turun di depan Gereja Bethel. Taksi : New Atlas